Lembayung senja yang kehitaman
semburat jingga yang menggelap perlahan
diantara kuning langit yang kecoklatan
aura dingin yang berubah menjadi kehangatan
Langkah mulai menapak perlahan
menyeret kaki dengan enggan
berharap dengan menutup mata,setiba itu ia akan pulang
tanpa perlu mengangkat kaki untuk berjalan
Raut wajah yang sudah tak ingin disapa
tubuh lunglai yang tak kuasa untuk berkata
mata sayu yang tak lagi mampu berbicara
kilap wajah yang penuh dengan kelelahan
Kemanakah arah pulang,
dimana ada kursi berbau sama dengan peluh bercampur pewangi tubuh
bantal bulu angsa yang sama lembutnya dengan kue bolu pandan hangat
cangkir putih berkerak coklat, yang diisi air putih hangat berbau teh
masih jauhkah ia harus berjalan
karena langit telah dipaksa untuk menumpahkan hujan
pelangi pun enggan datang untuk berbagi keindahan
karena saat lembayung telah selesai berpentas,
malam datang untuk unjuk kebolehan
Hanya ia yang bisa,
menutup mata sambil berjalan
karena berharap sambil berkedip saja takkan sempat diiyakan Tuhan
berkata ia dalam hati,
“Tolong pindahkan pulang dalam satu langkahku kedepan..”
satu mata ia buka,kemudian dua (ia berharap ada mata ketiga dan keempat)
karena satu atau dua mata yang ia buka,
arah pulang masih jauh membentang
Sogan menghilang
berganti gelap malam
jingga menurunkan layarnya, dan hitampun terbentang
ia terus berjalan dalam diam
