Satu langkah

Selalu tentangmu,
Ketidaksamaan antara hati dan ucapan,
Perbedaan antara keinginan dan tindakan,
Perubahan yang tak ingin bergerak,
Harap ada keajaiban

Kembali kepadamu,
Setitik warna cerah diantara suramnya langit gelap,
Satu menit tawa lepas diantara sepinya hati
Pelukan hangat diantara dinginnya hati
Harap ini selamanya

Satu langkah yang menjadi jarak,
Satu langit yang kita pandang bersama,
Lagu yang kita nyanyikan bersama saat sendiri,
Satu garis yang kita gambar,yang tanpa bicara kita tau
Satu kata terucap, hati kita saling menaut

Satu langkah,
Aku ke utara, kau selatan
Kita berbeda dalam satu
Kita menyatu dalam ketiadaan
Kita merindu dalam bahasa yang berbeda
Kita, mencintai tanpa menjadi kita.
Ini hanya tentang aku dan kamu yang tak akan menjadi kita.
Bersama , bermimpilah


astaga!

Hidup penuh dengan kejutan, mirip dengan isi permen dengan bungkus beraneka warna
Tak beda dengan bunyi ledakan balon atau petasan yang tak terduga keras atau pelan suaranya

Bercerita tentang kejutan selalu terhubung padamu,
Seperti suara gelegar yang mengiringi datangnya petir, serupa tanah basah yang disirami hujan

Ada apa denganmu?
Atau mungkin tepatnaya, ada apa denganku…

Aku bosan menyebut namanu, walau dengan namamu aku mengucap rindu
Aku letih menginginkanmu, walau denganmu aku merasa utuh
Aku ingin melupakanmu,
Walau pada akhirnya, kepadamu aku menuju

Astaga!
Kau tak beda seperti debu
Semakin aku berusaha menghilangkanmu, semakin kau menyesap kedalam hidupku

Astaga!
Lebih baik kau rubah namamu,agar aku bisa berhenti melafalkan namamu seperti mantra

Astaga!
Pernah tepikirkan olehmu untuk tidak lagi telihat begitu menyanangkan?behentilah menjadi makhluk teindah untukku

Astaga!
Seperinya aku gila!

Bukan,kau yang gila!
Aku cukup waras untuk melihat semua yang ada pada dirimu, dan se mentara kau tak menyadarinya..

Behentilah menjadi yang teindah untukku.
Berhentilah menjadi lagu pilu untukku,
Karena mencintaimu sama dengan membunuh kewarasanku.

Astaga!
Semoga aku belum gila


welcome aboard

Mungkin aku terlalu terburu mengharu biru
bahkan detak jantungmu belum hadir menembus kulitku
mungkin kau belum merasakan belaianku
tapi aku percaya kau sudah mendengar detak jantungku

Selamat datang, kau yang belum bernyawa
bahkan kehadiranmu belum membuatku sepenuhnya percaya
keberadaanku mungkin belum kau rasa
tapi percayalah bahwa aku sudah ingin membacakanmu cerita

Senangkah kau berada disana?
tempat baru yang telah Tuhan sediakan untukmu melaluiku
nyamankah kau berada disana?
ruang terbaik yang Tuhan berikan untukmu melaluiku

aku telah mengubah diriku untukmu,
aku mau mengalahkan takutku untuk menemanimu bertemu pria berpakaian putih itu,
aku merelakan perubahan tubuhku yang ikut merasakan senang akan hadirmu,
aku mempertebal kesabaranku,
aku menahan keinginanku yang tak berhubungan denganmu
aku berusaha memberikan yang terbaik untukmu,

karena tak lama lagi kau akan datang kepadaku,
kau akan tertidur didalam pelukanku,
dan kau akan memanggilku
ibu


menunggu hujan

diam,
duduk tak bergerak
memandangi jendela yang membingkai matahari
tatapan yang terlihat kosong
namun sebenarnya menunggu

menghela nafas,
masih tetap terdiam
kali ini ia tak menginginkan angin
walau lebut terasa menerpa
tak akan bisa menikmati seperti biasanya

walau tampak tak jelas,
sepertinya langit berubah warna
dalam hati berucap semoga jingga tak datang kali ini
biar saja warna gelap yang hadir
semoga saja warnanya menjadi abu

dan angin tak lagi berhembus semilir,
hati mulai bangkit dari duduknya,menunggu kabar baik
dan nyata, angin bertiup beradu dengan ruang kosong
awan kelabu datang bersama butiran air,

dan ia mulai berhitung
satu
..dua
dan datanglah yang ia tunggu
hujan
…tik..tik..tik..

ia berlari keluar rumah tanpa alas kaki
menantang awan untuk menurunkan semua air yang ia miliki
agar ia memiliki alasan yang tak mereka ketahui
ia perlu menangis
tapi hatinya tak mengizinkan mereka melihat air mata

dan kini hujan datang ditemani petir
ia makin menggila
ia perlu berteriak tanpa harus didengar oleh siapapun
ia ingin mengerluarkan amarah tanpa harus mereka tau

ia pun terduduk,
bersimpuh di tanah
jangan salahkan air hujan yang mengalir bercampur dengan airmata
jangan pertanyakan mengapa petir kali ini menggelegar lebih keras
karena bercampur dengan teriakan amarah

tak menyelesaikan semua permasalahan
hanya sepertinya rongga hati melebar
siap menampung lebih banyak, yang entah apa

setelah senyum hadir saat menatap langit
ia berjalan perlahan membuka pintu
dengan tubuh yang kuyup dan suara yang parau
life, i’m back

 


kepada : hidup

apa kabar dunia?
lama tak menyapamu
masihkah langit berwarna biru,
rumput yang berwarna hijau,
kuning milik jeruk limau,
..ah bertapa aku merindu

sesekali aku bersua dengan matahari,
walau hanya sesaat, sebentar saja menyapa
tak sempat bertanya kabar, hanya senyum yang tersungging
tak lebar memang,
tapi mungkin ia tau bahwa aku merindukannya
iya, aku rindu…

lama tak bertegur dengan hujan,
lama tak mendengar renyah suaranya
menunggu petir menggelegar lantang
mengintip apakah pelangi akan datang kali ini

kursi itu telah lama tak kududuki
bantal bulu angsa telah kembali ke bentuk semula
lama tak kupeluk
wangi yang biasa kutinggal disitu kini telah bercampur debu

apa kabar hidup?
rinduku telah sampai diujung tanduk
bagaimana caranya untuk menyentuhmu kembali?
karena hatiku separuhnya masih ada disitu
di dunia yang hanya ada aku
dan semua hal yang aku inginkan

apakabar hidup?
rinduku terus mengalir bersatu dengan nafasku
katakan padaku jalan untuk kembali denganmu
karena hanya dengan menyentuhmu,merasakanmu
aku merasa bahwa aku adalah aku

mendekatlah padaku,
akan kubisikan padamu
aku merindu,bawa aku bersamamu

(inda,ketika merindu)


drupadi

Tanpa aku bicara, kau tau begitu saja
aku menunggu hingga kau bertanya
aku menanti, berharap kau memahami dengan sendirinya
karena aku merasa, kau tau apa yang aku rasa

Kita berbiacara dalam diam
bercerita tanpa kata
bersandar pada kesadaran bahwa kau adalah sang separuh nyawa
yang akan merasa apa yang aku rasa

Aku menunggumu,
menunggu waktu yang tepat untuk berada dalam pelukanmu
kau diam menantiku,
meyakini akan tiba masanya kita kan menyatu

Hatiku mungkin terpecah,
membelah dan terbongkah
tapi cinta yang kupunya tetap utuh
menyatu selayaknya yang tak tersentuh

Aku drupadi,
untuk waktu,untuk hati dan pekerjaanku
jangan tanyakan mengapa begitu
karena mereka tak tau
hanya kita yang tau


sogan dan malam

Lembayung senja yang kehitaman
semburat jingga yang menggelap perlahan
diantara kuning langit yang kecoklatan
aura dingin yang berubah menjadi kehangatan

Langkah mulai menapak perlahan
menyeret kaki dengan enggan
berharap dengan menutup mata,setiba itu ia akan pulang
tanpa perlu mengangkat kaki untuk berjalan

Raut wajah yang sudah tak ingin disapa
tubuh lunglai yang tak kuasa untuk berkata
mata sayu yang tak lagi mampu berbicara
kilap wajah yang penuh dengan kelelahan

Kemanakah arah pulang,

dimana ada kursi berbau sama dengan peluh bercampur pewangi tubuh
bantal bulu angsa yang sama lembutnya dengan kue bolu pandan hangat
cangkir putih berkerak coklat, yang diisi air putih hangat berbau teh

masih jauhkah ia harus berjalan

karena langit telah dipaksa untuk menumpahkan hujan
pelangi pun enggan datang untuk berbagi keindahan
karena saat lembayung telah selesai berpentas,
malam datang untuk unjuk kebolehan

Hanya ia yang bisa,
menutup mata sambil berjalan
karena berharap sambil berkedip saja takkan sempat diiyakan Tuhan
berkata ia dalam hati,
“Tolong pindahkan pulang dalam satu langkahku kedepan..”

satu mata ia buka,kemudian dua (ia berharap ada mata ketiga dan keempat)
karena satu atau dua mata yang ia buka,
arah pulang masih jauh membentang
Sogan menghilang
berganti gelap malam
jingga menurunkan layarnya, dan hitampun terbentang
ia terus berjalan dalam diam