Monthly Archives: July 2008

Belly Dance

Haha..

Kelas Belly Dance dimulai

Tanpa baju rumbai-rumbai,

Tanpa pamer perut secara vulgar di tempat umum,

Tapi dengan sepatu dan baju olah raga,

 

Di pintu kelas tertulis “Belly Dance – Program untuk Perut dan Pinggang”

Artinya, selama sejam ini perut dan pinggang akan diajak untuk bergerak lebih dari yang biasanya.

Instrukturnya bilang perut buncit, dan pinggang yang sering sakit sering dialami perempuan, baik itu yang sudah melahirkan atau belum. Saya jadi berpikir kalau perut dan pinggang yang buncit dan sering encok itu memang sahabat kaum perempuan.

Nah, belly dance ini akan melatih otot perut dan pinggang kita, ya minimal dalam usaha mengempiskan perut yang sedikit membuncit dan pinggang yang jarang sekali saya gerakan.

 

Instruktur mulai naik “panggung”. Sebelum musik dimulai, ia mengatakan bagian tubuh mana-mana saja yang harus dan tidak perlu bergerak untuk belly dance.

Semua penasaran…

Ibu-ibu mulai pamer perut, bajunya mereka gulung sampai batas payudara,dari situ terlihatlah sisa-sisa kejayaan perut mereka yang mengendur karena pernah mengalami hamil.

Perempuan-perempuan muda (seperti saya J) yang belum mengalami hamil, hanya bisa tertawa-tawa melihat polah ibu-ibu yang saling mengukur “ketebalan” perut mereka, dan menilai satu sama lain. Perut milik kami mungkin tidak setebal mereka, tapi lebih parahnya milik kami isinya lemak makanan yang enggan pergi, dan kami malu-malu untuk memamerkannya dengan kawan yang ada disebalah. Kami hanya melihat bayangannya di cermin yang besar yang ada dihadapan kami.

 

Ibu-ibu didepan saya mulei senyum-senyum malu tapi penasaran ketika musik ala timur tengah diputar

Kami tertawa-tawa melihat gerakan yang aneh yang terpantul di cermin, jauh dari yang instruktur contohkan, semua anggota tubuh ikut bergerak.

Selama hampir sejam, kami mempermalukan diri sendiri secara masal, menularkan tawa yang hangat dengan semua yang ada diruangan, dan akhirnya sang instruktur menyerah melihat gaya kami dan berhenti menyuruh kami untuk tidak menggerakan kaki, berhenti menggoyangkan pinggul, dan tidak meliuk-liukan badan lagi seperti cacing yang kepanasan dan ia mulai ikut tertawa keras bersama kami.

Menyenangkan sekali melalukan hal yang baru pertama kali kita lakukan bersama-sama dengan orang-orang yang hampir kita tidak kenal semuanya. Tawa menjadi bahasa yang universal. Tawa melupakan rasa malu karena tidak bisa melakukan hal-hl kecil, suara tawa membuat kita menjadi saling mengenal sedikit demi sedikit orang yang tadinya asing.

Jadi, buat saya Belly Dance bukan hanya untuk perut dan pinggang saja. Tapi..

Belly Dance = Smile dan Laugh, yang artinya

Belly Dance – Program untuk Otot Wajah

 


Just Me, My Self and I

Hari ini aku terluka,

Ketika cinta yang baru tumbuh, ketika baru manis yang terasa

Kembali tersandung dan menorehkan luka

Ketika berusaha untuk melangkah, ternyata kebohongan yang ada

 

Cukup kata untuk dirimu,

Ternyata manis itu hanya sesaat

Dan ternyata aku terlalu terlena

 

Rasa itu tiba-tiba menguap ,pergi berlalu bersama angin yang berhembus dilapangan luas

Kebingungan kembali melanda

Ketidakpastian kembali hadir menghantui,

Rasa pesimis mudah datang seperti semut yang menghampiri gula

 

Tapi aku telah belajar untuk tidak lagi menikmati luka ini

Aku akan kembali bersandar kelemah tubuhku ketika aku terhempas

Ketika hatiku terombang ambing menjalani sisa hari ini,

Aku kembali mencari diriku sendiri, kembali duduk di sofa hatiku.

Menikmati secangkir teh hangat yang selalu tersedia dihatiku

Memandang luas langit yang biru, merenungkan apa yang sebenarnya terjadi

Hanya diri sendiri yang bisa aku andalkan

Aku akan memulai lagi semuanya

Dengan sisa kebahagian yang aku punya,

Esok aku akan mengisinya kembali penuh melalui sumber kebahagiaanku lainnya

Dan senyum akan kembali menjadi bagian dari hari-hariku

 

 

(Untuk Sahabatku – Dini – , miss u sista’)

 


Aji,…

 

Aku rindu..


Sebagian kecil dari Keluarga Besar

Ini Sebagian kecil dari anggota keluarga besar saya
Yang ini Paman, Bibi dan Nenek saya
Orang-orang yang punya sekantung penuh tawa yang siap dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan
Individu yang selalu siap melakukan hal-hal gila yang kadang belum terpikirkan oleh saya
Keluarga yang selalu memiliki beragam cerita yang membuat saya menjadi karenanya, cerita yang bisa membuat saya tertawa terbahak-bahak, membuat saya merenung, membuat saya bahagia karena kehadiran mereka

Mereka orang-orang yang polos,
yang kadang-kadang tidak malu untuk melakukan hal-hal aneh
Mereka orang-orang yang menikmati hidup,
yang kadang caranya tidak dipahami oleh saya
Mereka orang-oranga yang penuh kasih sayang,
yang kadang-kadang menunjukannya dengan cara yang tidak biasa.

Kebersamaan dengan mereka berarti kebahagiaan yang sempurna
Dengan mereka, waktu menjadi sesuatu yang berharga luar biasa
Paman saya seorang pencerita ulung, semua disampaikan dengan
bahasa yang lugu, kocak dan polos. Beliau seorang sunda yang sangat
menghargai budaya, bahasa dan seni.
Dekat dengannya berarti menggenggam kantong udara yang siap
meledak yang berisi tawa
Bibi saya adalah ibu rumah tangga multi talenta. Sosok yang mudah
menyatu dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun
Seorang yang mungkin melakukan hal-hal gila, yang menyenangkan,
yang membuat semua yang ada didekatnya tertular bahagia
Nenek saya seorang muda yang jiwanya masuk kedalam tubuh yang
mulai menua. Tapi semangatnya untuk berbagi dalam banyak hal tidak
membuatnya terlihat tua. Bila tertawa, matanya akan segera basah oleh
air mata. Beliau jarang menangis, hidupnya terlalu indah untuk untuk
diisi dengan tangisan.

Saya bersyukur untuk ini
Saya bersyukur karena telah terlahir dari keluarga besar
Saya bersyukur untuk waktu yang telah Allah berikan kepada saya dan keluarga
Saya bersyukur untuk materi yang telah hadir di hati mereka, yaitu emas
Alhamdulillah


KeRing

 Seharian ini langit gelap
 Mungkin akan turun hujan
 Angin terasa hambar, udara terasa lembab

 Tapi sampai sore, hujan tidak turun juga
 Mungkin enggan membasahi tanah yang sudah haus memerlukan air
 Hujan ragu untuk turun membuat bumi menjadi basah
 Padahal semua merindukannya
 Pohon-pohon menggugurkan daunnya,
 Agar mereka bisa meneruskan hidupnya
 

 Angin bertiup kering, menyeret daun-daun yang berguguran
 membawanya pergi 
 Mengacak rambutku menjadi kusut, dan memaksaku untuk
 memeluk diriku sendiri untuk menjadi hangat 
 

Tapi…

Ketika kemarau hadir, Langit sore menjadi lukisan hidup yang menakjubkan
Memaksaku untuk mengaguminya dengan mata yang terbelalak kagum
Serabut jingga telah menoreh di langit biru
Menjadikannya sebagai karya Sang Maha yang luar biasa

Awan gelap dan putih masih berebut tempat di langit
Tapi lambat laun, awan gelap merajai langit luas
Bukan hujan yang akan datang,
Tapi malam yang akan menjelang

Mungkin hujan akan turun besok
Hujan yang akan membuat daun-daun kembali hijau di ranting pohon
Hujan yang akan membasahi tanah dan menebarkan harum bumi

Dan semuanya akan basah oleh Hujan.
Semoga


Kamu Juga kan?

Saya sering menggaruk-garuk hidung saya sampai merah, kamu juga kan?
Saya sering bangun terlambat, dan berharap hari itu adalah hari libur, kamu juga kan?
Saya sering menggigit kuku ketika merasa cemas, kamu juga kan?
Saya sering mencibirkan bibir saya ketika seseorang berbuat seenaknya terhadap saya, kamu juga kan?
Saya sering berpikir kalau Luna Maya terlalu sering terlihat dimana-mana,mulai tv sampai bungkus gorengan, kamu juga kan?
Saya sering-terlalu sering- mengeluhkan berat badan, kamu juga kan?
Saya sering berpikir kalau bisa sehari menjadi laki-laki, saya akan mencoba bagaimana rasanya menyatakan cinta pada seorang perempuan, kamu juga kan?
Saya sering tertawa bila melihat orang boncengan bertiga, dan tiga-tiganya memakai helm, kamu juga kan?
Saya sering merasa bahwa es krim dan cokelat adalah guilty pleasure, kamu juga kan?
Saya sering tidak sabar ingin segera mengetahui akhir dari sebuah buku cerita atau film, kamu juga kan?
Saya sering berpikir jika pasangan saya adalah laki-laki yang menyenangkan, kamu juga kan?
Saya sering sakit perut jika masuk angin, kamu juga kan?
Saya sering menertawakan ayah saya jika beliau ingin memakan makanan yang saya makan ketika di restoran, kamu juga kan?
Saya sering berkata yang buruk ketika saya mulai kesal, kamu juga kan?
Saya sering berpikir kalau Reza Artamevia adalah penyanyi perempuan Indonesia yang paling cool, kamu juga kan?
Saya sudah cukup bosan melihat berita di TV yang isinya hanya kerusuhan, korupsi dan perceraian, kamu juga kan?
Saya mau tau rasanya jadi penyanyi yang berada diatas panggung indonesian idol, kamu juga kan?
Saya sering berpikir kalau Bandung adalah kota yang paling JUARA, kamu juga kan?
Saya sering berpikir kalau masakan ibu adalah masakan yang paling enak, kamu juga kan?
Saya sering merasa bahwa tanpa keluarga, saya bukan apa-apa, kamu juga kan?
Saya selalu berpikir bahwa dalam setiap doa ibu dan ayah saya, nama saya selalu mereka sebut, kamu juga kan?
Saya berangan-angan bahwa suatu hari nanti ada seseorang yang menginginkan saya begitu dalam, kamu juga kan?
Saya sering tidak sabar menanti akhir dari perjalanan hidup saya seperti apa, kamu juga kan?
Saya percaya bahwa Tuhan adalah Maha segala Maha, kamu juga kan?
Saya mencintai Diri saya sendiri – ada adanya-, kamu juga kan?

Saya berpikir saya sudah terlalu banyak bicara, kamu juga kan?


Alhamdulillah

Saya bukan orang yang religius (bahkan ikut pesantren pun belum pernah) Saya tidak pernah memilih agama yang saya anut ketika saya dilahirkan,semuanya warisan orang tua.

Tapi saya mencintai Tuhan saya. Allah SWT.

Proses mencintai yang sungguh rumit, panjang dan berliku. Awalnya saya berpikir jika mencintai Allah (swt) haruslah berwal dengan titik keimanan yang ada di level tinggi, pintar mengaji, tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu, berzakat, beramal, mendengarkan ceramah dan hal-hal lainnya yang kadang belum saya lakukan sepenuhnya. Tetapi minggu kemarin, katakanlah saya mendapatkan sebuh percerahan tentang siapa Tuhan, bagaimana saya bisa melakukan pendekatan dengan cara saya sendiri, dengan titik keimanan saya belum bergeser banyak selama beberapa tahun ini. Ternyata mencintai Allah (swt) itu mudah, simpel dan tidak rumit.

Seperti halnya orang yang sedang jatuh cinta, semua menjadi indah adanya. Ketika saya menatap langit dan melihat bintang, saya merasakan bahwa Allah (swt) adalah seniman yang tau benar bagaimana menciptakan keindahan. Kemudian ketika saya mulai berjalan dan menemui seorang tua renta menarik gerobak sampah, saya merasakan bahwa Allah (swt) sangat mencintai umatnya. Ketika orang tua saya sakit, saya merasakan bahwa Allah (swt) sangat sayang kepada saya karena telah membiarkan saya menjaga mereka. Semuanya terasa hangat, tenang dan damai ketika Allah (swt) membiarkan saya menikmati semua ciptaan-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya. 

Seperti layaknya jatuh cinta juga, berkomunikasi adalah langkah pertama untuk merealisasikan cinta itu. Maka mulailah saya berkomunikasi dengan Allah (swt). Saya bercerita tentang apa yang terjadi dihari ini, saya mulai berbicara mengenai hal-hal yang ingin saya wujudkan dengan mencintai-Nya, keinginan saya untuk selalu berada didekat-Nya, dan keinginan untuk meminta-Nya untuk selalu menerangi jalan hidup saya.

Allah (swt) telah mengajari saya untuk sering berpikir positif tentang hal apapun, untuk selalu bersyukur untuk semua hal yang terjadi dalam hidup saya. Ketika hari terasa berat dan saya kelelahan memikul semuanya sendirian, saya bersandar pada-Nya. Karena saya teringat pada sebuah ayat dalam kitab suci yang berkata bahwa

Ingatlah bahwa hanya dengan mengingat Allah lah, hati akan menjadi tentram

Alhamdulillah.