Belly Dance

Haha..

Kelas Belly Dance dimulai

Tanpa baju rumbai-rumbai,

Tanpa pamer perut secara vulgar di tempat umum,

Tapi dengan sepatu dan baju olah raga,

 

Di pintu kelas tertulis “Belly Dance – Program untuk Perut dan Pinggang”

Artinya, selama sejam ini perut dan pinggang akan diajak untuk bergerak lebih dari yang biasanya.

Instrukturnya bilang perut buncit, dan pinggang yang sering sakit sering dialami perempuan, baik itu yang sudah melahirkan atau belum. Saya jadi berpikir kalau perut dan pinggang yang buncit dan sering encok itu memang sahabat kaum perempuan.

Nah, belly dance ini akan melatih otot perut dan pinggang kita, ya minimal dalam usaha mengempiskan perut yang sedikit membuncit dan pinggang yang jarang sekali saya gerakan.

 

Instruktur mulai naik “panggung”. Sebelum musik dimulai, ia mengatakan bagian tubuh mana-mana saja yang harus dan tidak perlu bergerak untuk belly dance.

Semua penasaran…

Ibu-ibu mulai pamer perut, bajunya mereka gulung sampai batas payudara,dari situ terlihatlah sisa-sisa kejayaan perut mereka yang mengendur karena pernah mengalami hamil.

Perempuan-perempuan muda (seperti saya J) yang belum mengalami hamil, hanya bisa tertawa-tawa melihat polah ibu-ibu yang saling mengukur “ketebalan” perut mereka, dan menilai satu sama lain. Perut milik kami mungkin tidak setebal mereka, tapi lebih parahnya milik kami isinya lemak makanan yang enggan pergi, dan kami malu-malu untuk memamerkannya dengan kawan yang ada disebalah. Kami hanya melihat bayangannya di cermin yang besar yang ada dihadapan kami.

 

Ibu-ibu didepan saya mulei senyum-senyum malu tapi penasaran ketika musik ala timur tengah diputar

Kami tertawa-tawa melihat gerakan yang aneh yang terpantul di cermin, jauh dari yang instruktur contohkan, semua anggota tubuh ikut bergerak.

Selama hampir sejam, kami mempermalukan diri sendiri secara masal, menularkan tawa yang hangat dengan semua yang ada diruangan, dan akhirnya sang instruktur menyerah melihat gaya kami dan berhenti menyuruh kami untuk tidak menggerakan kaki, berhenti menggoyangkan pinggul, dan tidak meliuk-liukan badan lagi seperti cacing yang kepanasan dan ia mulai ikut tertawa keras bersama kami.

Menyenangkan sekali melalukan hal yang baru pertama kali kita lakukan bersama-sama dengan orang-orang yang hampir kita tidak kenal semuanya. Tawa menjadi bahasa yang universal. Tawa melupakan rasa malu karena tidak bisa melakukan hal-hl kecil, suara tawa membuat kita menjadi saling mengenal sedikit demi sedikit orang yang tadinya asing.

Jadi, buat saya Belly Dance bukan hanya untuk perut dan pinggang saja. Tapi..

Belly Dance = Smile dan Laugh, yang artinya

Belly Dance – Program untuk Otot Wajah

 

Advertisements

About Inda Adimadja

Inda, frekuensi tertawa dan menggertunya sama banyak Inda, perempuan yang tergila-gila oleh langit,angin,matahai dan isinya Inda, menikmati hidupnya dengan jalan-jalan bersama keluarga Inda, memilih diam di rumah dan membaca di hari minggu yang terik Inda, menyukai persahabatan Inda, mencintai Tuhan dan Rassul nya Inda, menyayangi ayah,ibu,kakak,dan keponakannya Inda, menyukai semangka dingin Inda, sedang belajar mengenal Tuhan nya dengan caranya sendiri Inda, menyukai laki-laki yang pintar Inda, mudah tersinggung semudah senyum yang hadir dipipinya Inda, tidak keberatan dompetnya kosong untuk membeli buku Inda, senang menulis Inda, senang berbicara Inda, sering terkena sindrome moody Inda, hanya seorang Inda View all posts by Inda Adimadja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: