Alone at Mars

 

Secangkir kopi panas hadir di luas meja kayu, asapnya masih mengepul, melayang ringan berpadu dengan udara hampa

Angin bertiup perlahan menembus kain tipis yang menyaring angina dingin malam dari jendela

Laki-laki muda duduk di kursi kayu tua yang telah berubah menjadi singgasana. Menatap hampa kesemua arah ruangan yang sempit. Sebentar ia menghirup isi cangkir, sedikit saja.

Ia kembali terdiam, sepi sunyi. Kesunyian yang telah mengubah suara detik dari jam dinding menjadi irama yang menggema. Buku yang ada di pangkuannya tak tersentuh, telepon genggam yang bersuara karena getarnya beradu dengan meja kayu tak membuatnya berpindah dunia

Sambil kembali menghirup kopinya yang mulai menghangat, ia mulai merangkai kata, menuliskannya di memo kecil diatas meja

Ini pernah menjadi duniaku. Dunia yang aku bentuk dngan semua raa yang aku miliki, dengan keinginan untuk menjadi lebih baik, dengan kemampuan untuk kembali memulai perjalanan hidup. Semua berawal disini. Dunia yang yang aku isi dengan rasa cinta yang membuncah, dengan rindu yang selalu membuat hati menjadi luas karenanya, dengan kasih sayang yang tidak terhitung, dengan rasa hormat yang hadir lewat senyuman dan sapaan. Dunia yang selalu aku gambarkan dengan warna biru terang untuk langit di pagi hari, dan akan berubah menjadi jingga ketika petang. Langit malam yang berwarna gelap legam akan aku gambarkan bintang dan bulan sabit sebagai perhiasannya”

 

Ia berdiri dari kursinya,mulai berjalan kearah tangga, menuju ruangan dimana segala keajaiban dari dirinya dimulai. Dinding yang berwarna hijau disatu sisi, dan putih disisi lainnya membuatnya tersenyum, ada gambar sepeda merah yang tertempel di dinding hijau seperti yang pernah ia ceritakan kepadaku. Lampu meja yang selalu menghadirkan cahaya sayu yang membuat cermin didekatnya memantulkan bayangan yang lebih indah, sama ketika ia memelukku dan menjadi kagum karena keindahan yang terpantul dari cermin itu.

Ruangan ini pernah menjadi yang terindah untuknya. Semua karya ia ciptakan disini, gambar yang berwarna-warni, musik yang membuat kekuatan memoir yang indah untuk semua yang mendengarkannya, tulisan-tulisan yang ia corat coret diatas buku sketsa, semua masih ada disini.

(Kita pernah berbagi tawa disini, berbagi secangkir lemon tea, dan semua kenangan yang indah ada didalamnya)

Laki-laki muda itu keluar dan mengunci kembali ruangan kecilnya.

Ia tidak hidup dengan masa lalu, kenangan indah mungkin akan selalu ia bawa, tapi ia tidak takut untuk membuat kenangan baru, karena dengannya ia akan menambah luas hatinya untuk menjadi lebih bahagia.

 

Rumah ini adalah sebagian dari seluruh hidupnya, dan menjadi poros hidupnya

Tapi hidup terus berjalan dan ada akan tertinggal dan ditinggalkan

Advertisements

About Inda Adimadja

Inda, frekuensi tertawa dan menggertunya sama banyak Inda, perempuan yang tergila-gila oleh langit,angin,matahai dan isinya Inda, menikmati hidupnya dengan jalan-jalan bersama keluarga Inda, memilih diam di rumah dan membaca di hari minggu yang terik Inda, menyukai persahabatan Inda, mencintai Tuhan dan Rassul nya Inda, menyayangi ayah,ibu,kakak,dan keponakannya Inda, menyukai semangka dingin Inda, sedang belajar mengenal Tuhan nya dengan caranya sendiri Inda, menyukai laki-laki yang pintar Inda, mudah tersinggung semudah senyum yang hadir dipipinya Inda, tidak keberatan dompetnya kosong untuk membeli buku Inda, senang menulis Inda, senang berbicara Inda, sering terkena sindrome moody Inda, hanya seorang Inda View all posts by Inda Adimadja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: