Bandung SoreSore

Minggu Sore emang enaknya dipake buat jalan-jalan
Berhubung pasangan lagi pergi jauh, seperti biasa keluarga saya paling seru buat diajak jalan-jalan
Dan jalan-jalan ga jauh seputar makanan
Sore ini, kakak ipar ngidam surabi di cisangkuy
“Ukurannya lebih gede, dan oncomnya pedes banget” gitu katanya
Hajarr..
Kebetulan, saya termasuk generasi jadul
Saya kurang suka surabi yang dimodifikasi, permak sana sini toppingnya
Buat saya Surabi Oncom dan Surabi Gula kinca paling mak nyuuuss..

Harganya dibandroll 1500 rupiah satu biji
Murah atau mahal sih?
Niatan mau makan ditempat, tapi kayanya kalah saingan sama orang-orang jakarta yang pada kelaparan
Kursi semua terisi, mejanya berantakan dari mulai susu asem itu, baso tahu, soto bandung, sate, tahu gejrot, semua memenuhi meja (orang jakarta mau makan enak perlu ke bandung kayanya ya..)
Akhirnya, kita sepakat buat bungkus surabi (+20 tusuk sate daging sapi dan lontong) dan makan dirumah

Ga salah emang kalo Bandung surganya tempat makan enak (berarti jangan salahin kita, kalo pipi kita lebih chubby dan perut kita berkapasitas lebih besar dari orang-orang yang lainnya)
Asal ada tempat makan baru, pasti semua orang tumplek blek disitu
Kalau makanannya lulus sensor lidah orang Bandung, tempat makan itu bakalan bertahan lama
Tapi kalau rasanya tidak memenuhi sesuai selera kita, walhasil dalam waktu 2bulan (atau lebih dikit) tempatnya pasti berangsur sepi dan akhirnya gulung tikar)

Ga jarang tempat makan enak dan jadi idola itu cuma makanan tenda di pinggir jalan, walaupun makanan yang dijual hanya nasi goreng dan rasanya sama spektakuler dengan nasi goreng buatan ibu di rumah.
Mungkin kita membeli feel yang didapatkan ya kalau makan ditempat itu?
Harusnya di struk pembayaran dicantumkan biaya untuk membayar suasana

Kadang, ada beberapa kawan atau kerabat saya yang cukup memilih jika makan diluar rumah (baca : jajan)
Tempatnya harus yang sepi lah, harus murah, higienis dan hal-hal yang menurut saya ribet
Salah seorang kerabat saya pernah mengajak ke Gasibu, ‘ada acara jajanan se Bandung’ begitu katanya
Sampainya disana, dia hanya berkeliling, melihat-lihat dan akhirnya sebungkus daun sate ayam yang ia makan.
Saya?Tahu Gejrot (my idol), Mie Kocok dan Iga Bakar sukses hinggap diperut saya.
Alasan dia tidak mau makan?
Wadah makanannya di stereofoam, dan itu berbahaya
Waktu saya bilang kenapa tidak bekal rantang atau mangkuk sendiri dari rumah, dia diam saja
Stereofoan mungkin memang berbahaya, tapi kan tidak tiap hari kita makan menggunakan wadah itu
Dan kenapa kita tidak berdoa saja, semoga makanan yang kita makan tidak membuat kita sakit (beres kan?)

Santai aja buuu..
Makanan untuk dinikmati..
Kalau memang takut dengan barang berhaya tadi,jangan lupa bawa rantang kemanapun anda pergi 🙂

Advertisements

About Inda Adimadja

Inda, frekuensi tertawa dan menggertunya sama banyak Inda, perempuan yang tergila-gila oleh langit,angin,matahai dan isinya Inda, menikmati hidupnya dengan jalan-jalan bersama keluarga Inda, memilih diam di rumah dan membaca di hari minggu yang terik Inda, menyukai persahabatan Inda, mencintai Tuhan dan Rassul nya Inda, menyayangi ayah,ibu,kakak,dan keponakannya Inda, menyukai semangka dingin Inda, sedang belajar mengenal Tuhan nya dengan caranya sendiri Inda, menyukai laki-laki yang pintar Inda, mudah tersinggung semudah senyum yang hadir dipipinya Inda, tidak keberatan dompetnya kosong untuk membeli buku Inda, senang menulis Inda, senang berbicara Inda, sering terkena sindrome moody Inda, hanya seorang Inda View all posts by Inda Adimadja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: