Monthly Archives: January 2009

Bandits called ATM

Setiap awal bulannya (seperti kebanyakan pekerja lainnya), saya dibayar oleh perusahaan untuk tetap bangun pagi setiap harinya, untuk tetap sehat dan pergi bekerja, untuk mengoceh, mengeluh dan mereka juga membayar saya untuk tetap bersemangat selama 8 jam penuh setiap harinya.
Setiap tanggal satu, saya selalu panasaran untuk bertandang ke ATM. Menebak-nebak berapa jumlah nominal yang akan saya terima kali ini. Walau jumlahnya sangat jarang berubah (read : bertambah) setiap bulannya, tapi ada gelitik tersendiri untuk menengok berapa nominal yang tertera di layar mesin ATM.
Dari satu sumber, saya ‘salurkan’ dana tersebut kedalam beberapa pos pengeluaran.
Yang pertama? Tagihan yang setiap bulan harus saya bayar, telepon dan internet. Dengan pintar, cekatan dan terampil, mesin ATM tersebut mengurangi harta kekayaan saya dalam sekejap (sigh..!) . Semakin miris lagi, ketika saya perlu mengambil beberapa lembar lagi untuk mengisi ulang dompet, untuk dijadikan harta karun selama seminggu kedepan. Tak tega dengan diri saya sendiri yang kehilangan beberapa rupiah dalam sekejap itu, saya berniat untuk tidak lagi menemui mesin ATM untuk seminggu atau lebih (mudah-mudahan).
Tapi apa daya, teknologi telah memperdaya saya. Pernah denger sistem Debit?
Nah itu pun sama rampoknya dengan mesin ATM.
Tinggal gesek, pencet nomor keramat, dan viola..barang ada ditangan tanpa disadari harta karun di kotak rahasia itu berkurang lagi. Honestly, saya penggemar berat dari sistem Debit ini. Ada unsur ‘hipnotis’ ketika berbelanja dengan debit. Uang cash didompet saya tidak berkurang, tapi barang ditangan. Ya..ya..sound so dumb, tapi lumayan juga untuk tetap merasa ‘dompet tetap tebal’.

Dan, hari ini godaan datang dari seorang kawan yang bekerja di sebuah EO di Jakarta

Ully : “Ind, Java Jazz Festival tuh tanggal 6-9 Maret besok.Nonton yoo..”
Duh, godaan setan yang terkutuk nih. Bisa gagal, hancur berantakan rencana nabung saya (yang artinya jangka waktu main ke ATM dikurangi).
Inda : “Hah, Ogah..Mahal”
Padahal dalam hati saya ketar-ketir menebak berapa harga tiketnya, siapa tau tabungan saya bulan ini bisa dibuat pos baru untuk nonton
Ully : “Ya lu beli aja yang tiket terusan sebelum pertengahan bulan depan, 3 hari berturut-turut, jatohnya lebih murah”
Tuh kan, setan emang selalu punya trik yang hebat untuk membujuk orang
Inda : “Emang berapa?”
..dan saya pun tergoda
Ully : “600 rebu buat tiga hari”
Masih masuk akal.
Inda : “Tumben murah. Eh, Ada Brian Mcknight ya?”
Menyemangati diri sendiri, bahwa 600 ribu adalah nominal yang pantas untuk menonton Brian McKnight, Matt Bianco,dll
Ully : “Bener banget. Ada Jason Mraz juga lho!”
Temen saya ini memang juara ngomporin
Inda : ” Wah asikkk..ayuu..ayuuu..”
Nah kan, luluh lantah lah niat saya untuk menabung ini
Ully : ” Jason Mraz nya hari Sabtu, dan tiketnya 450 rebu kalo ga salah”
Holly crap, maksudnya apa?
Ully : “Terpisah kali say, kalo lu mau nonton dia, lu kudu beli tiket lagi”

Berarti saya perlu mengeluarkan uang 1.050.000 untuk 3 hari itu?
Dan saya pun mengurungkan niat untuk ikut nonton
Saya tidak akan mempunyai tenaga untuk menarik uang sebanyak itu dari kotak ATM
Tidak tega rasanya bila harus menonton nominal yang merosot tajam jumlahnya dalam satu waktu penarikan
Dan saya pun takan tega membayangkan hanya bisa melihat dari kejauhan, cuma bisa lewat tanpa bisa menyentuh ATM, dan menarik beberapa rupiah dari dalamnya.

Apakah teknologi memang selalu seperti ini ya?
Berada ditengah pertempuran antara kebutuhan dan keinginan?

atm

Advertisements

dunia yang aneh

sickDunia emang makin aneh.
Tiap sore nonton TV, ada aja berita yang bikin saya berkomentar usil
Hari ini, ada seseorang yang mengkalim kalau dirinya Tuhan
Kemarin, ada mahasiswi diperkosa di kampusnya
Beberapa hari yang lalu, ada anak yang membunuh ibu kandungnya
Tempo hari, ada ibu yang menjadi gila karena mengalami kekerasan ketika hamil tua

Semakin lama, semakin aneh-aneh perilaku manusia
Sepertinya otak manusia semakin mengecil akhir-akhir ini, banyak perbuatan yang (kalo saya pikir sih) dikerjakan tanpa dipikir dulu. Tersinggung dikit, bacok. Ga suka, bunuh. Horni dikit, perkosa. Ga sabar sama jawaban doa dari Tuhan, dibikinlah dirinya menjadi Tuhan itu sendiri.
Padahal manusia kan -katanya- punya ukuran otak yang jauh lebih gede dibanding hewan, tapi kelakuannya ga jauh beda sama binatang-binatang itu.

Dunia makin sempit kali ya?
Kepentingan manusia yang satu, kebentur sama kepentingan manusia yang lainnya
Keinginan manusia yang banyak, kepentok sama keadaan untuk tidak bisa memiliki secara penuh
Semuanya saling sikut, berlomba-lomba dalam urusan duniawi
Semakin banyak manusia yang merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar, paling berhak untuk menilai orang lain, dan berhak untuk semua yang ada disekitarnya.

Trus, gimana dengan hati nurani?
Dimana hati kecil ketika semuanya terjadi?

Memang sulit untuk mengubah dunia yang aneh ini menjadi tempat yang lebih menyenangkan
Beragam kepentingan, hasrat, kemauan yang perlu diwujudkan dalam satu waktu

Tapi mungkin bisa dimulai dari diri kita sendiri ya, dalam hal ini dari dalam diri saya sendiri
Memang pastinya saya perlu banyak-banyak-banyak belajar lagi tentang banyak hal
Tentang bagaimana saya menghargai diri saya sendiri dan orang lain, bagaimana bahwa hak saya pun bersebelahan dengan hak orang lain, bagaimana saya menghormati setiap individu yang berbeda dalam keseharian saya.

Ya mudah-mudahan dunia akan menjadi akan lebih baik suatu hari nanti..


waktu menunggu

waktu menunggu,
aku tidak menyukai tangga
seolah mereka mengejekku yang sedang diam tak berdaya
duduk berpangku tangan
diam dalam ketidakpastian

waktu menunggu,
tangga menggambarkan apa yang ada dihatiku dengan baik
meliuk-liuk, seperti pikiran ini yang berlekuk-lekuk
panjang tak berakhir, seperti perasaan ini yang selalu dihimpit helaan nafas panjang

waktu menunggu,
tangga terlihat seperti lubirin yang memuakan,
berputar-putar, tanpa ada penyelesaian
berujung ditempat yang tidak aku tau ada dimana
dan diselipi doa untuk tidak tersesat

tapi,
kali ini aku duduk ditangga
menunggu

stairs

walau kau pergi jauh, aku akan menunggu
karena masa depanku masih ada dikantung bajumu
dan oleh karena itu,
aku akan tetap menunggu walau terkadang jemu


rasarinduyangmenggebu

sudah berapa rasarindu yang pernah kamu rasakan?
rindu sebesar kutu sampai rindu yang terlalu
rasarinduyangmenggebu

rasarindu yang terlalu untuk tidak segera diakhiri
rasarindu yang masih memiliki banyak waktu sampai pada perjumpaannya
rasarindu yang yang membuat hidup ini menjadi kelu
rasarinduyangbegitumenggebu

hugsaya, yang selalu merindu dengan datangnya hujan
itu untuk rasarindu yang mungkin tidak terlalu terburu-buru
saya, yang terkadang merindu makan arumanis
makanan yang menyeret kerinduannya pada masa kecil yang begitu indah
saya, yang menangis ketika merindu saat berjauhan dengan ibu
rasarindu yang membuat air menggenang dipelupuk mata
saya, yang terus menerus berkata ‘aku rindu’ saat mengingatnya
rasarindu yang selalu menebarkan keinginan untuk menunggu

setiap rindu, setiap kata-kata rindu, dan rasarindu yang menggebu
ada dalam kamus saya
keinginan untuk selalu bersama, itu rindu
keinginan untuk mengulang sesuatu yang telah lalu, itu rindu
ketika sendiri, dan kesepian, itu rindu
saat hati menjadi dingin, itu rindu

kadang rindu tak berbahasa
rindu tak memiliki wujud nyata
tak jarang rindu tak terungkap
hanya ada saat senyum yang datang terlambat
seringkali rindu hanya menjadi sepenggal asa
yang hanya ada diujung lidah, dalam detak jantung, ditelapak tangan yang dingin,
…menunggu untuk tersampaikan

bilang rindu, bila memang itu yang ada
katakan rindu, bila hati berkata padamu
karena rindu tak menjadi rindu ketika tak terungkapkan
rindu hanya satu langkah menuju kebebasan hati
rindu akan terasa hangat saat ada pada tempatnya
walau rindu kadang hanya rindu

rasarinduyangmenggebu
kali ini…
tak berbahasa
tak terungkap
tak bertuan
tak berkesudahan


Self Healing

Semalam, saya mengeluh migren
Pelipis saya terasa menegang, leher juga kaku, dan yang pasti saya lebih grumpy dari biasanya
Saya mencoba mencari asal muasal penyakit menyebalkan ini, dan terpidananya adalah tentu pekerjaan di kantor
Akhir-akhir ini box yang berisi setumpuk pekerjaan yang harus saya bereskan tidak pernah surut, bahkan semakin menggunung. Satu selesai, dua tugas datang. Dua selesai, tiga pekerjaan menunggu. Begitu terus.
Konsentrasi mudah hilang jadinya. Saya yang pelupa, ketika pekerjaan menumpuk, menjadi saya yang pelupa kuadrat.
Boss saya tadi pagi kirim e-mail, yang isinya “Inda, bla…bla..bla…. I’m waiting” Ya ampun, kemarin sore saya lupa reply e-mail dari dia.
Ditambah minggu ini ada penilaian kinerja saya (yang entah nantinya berpengaruh kemana) , kecerobohan jadi nama tengah saya minggu ini. Jadi apapun hasil penilaian itu nantinya, saya pasrah.

Dan ketika saya selesai makan malam, sesi curhat dimulai melalui pesan singkat
I : Seharian ini gue kerjaannya ngomel mulu, otak gue penat.
B: Kenapa emang?
I: Gue juga ga ngerti. Bawaannya pengen marah-marah mulu
B: Stress kali. emang kerjaan lagi numpuk ya? wajar lah..gue juga kadang gitu
I: Mungkin, tapi kayanya kalo stress masih jauh deh. Energi negatif lagi merajai hidup gue nih
B : Heu? tenang atuh. Pelan-pelan dicari tau kenapa lu bisa penat kaya gini
I: Kayanya gue lagi bosen banget
B: Kalo itu sih, gue ga bisa bantu. Gue juga lagi ngerasain yang sama
Cobain buat senyum, lama-lama hati lu bakalan ketawa ringan. Siapa tau nolong
I: Gada yang bisa bikin gue ketawa dari tadi siang. Kalo lu lagi penat, lu ngapain?Ngerokok ya?
B: Kadang
I: Nolong?
B: Kadang
I: Gue mau coba boleh?
B: Saran gue sebagai orang yang udah tau rasanya, JANGAN! rokok cuma pelarian doang buat orang yang kebingungan
I: Termasuk elu?
B: Perlu gue jawab?.. Mendingan lu self healing nda, cari tau apa yang bikin lu penat. Rasa marahnya jangan dilawan, jalanin aja. Istirahat mungkin bikin lu merasa lebih baik walau itu ga menyelesaikan masalah

stop1

Penyembuhan diri saya sendiri

Saya perlu tau apa sebenarnya yang tengah saya alami saat ini, pikiran apa yang bersembunyi dikepala saya, dan bagaimana mereka bisa datang, tiba-tiba menguasai seluruh pikiran dan memberikan efek yang buruk?
Mungkin saya perlu menyeimbangkan lagi semua komponen yang ada didalam tubuh saya untuk lebih sering terjadinya keharmonisan dalam setiap aspek kehidupan.
Berhenti membenci, berhenti menyakiti
Berhenti bingung, berhenti membingungkan
Berhenti untuk takut, berhenti untuk merasa tidak berdaya

Ikhlas, mungkin itu kata kuncinya

Hidup untuk dijalani, bukan untuk disesali


Berjalan perlahan, menikmati angin, duduk terdiam

aloneMalam ini aku berjalan lagi sendirian
Entah apa yang dicari,
Menyebut nama angin ketika mereka bertanya kemana aku hendak pergi
Sejenak aku menarik diriku dari himpitan hidupku kali ini
Bosan?
Tapi entah hal apa yang membuatku merasa bosan
Aku selalu menyukai rutinitas, aku menikmati pengulangan dalam banyak hal
Tapi kali ini

….aku merasakan yang berbeda

Ada yang berubah dengan inda-inda kecil didalam hatiku
Tiba-tiba saja, aku tak lagi menyukai matahari pagi
Sore yang berwarna jingga tak kuasa lagi membuat langkahku menjadi ringan
Angin bertiup kecang dan gerimis datang dipagi hari membuat aku tersenyum
Aku bertepuk tangan ketika hujan hadir di siang hari
Dan dalam hati aku mengucap syukur, ketika langit mendung gelap menjadi bayangan di sore hari

Saat ini pun,

Aku berjalan perlahan, membiarkan air hujan sisa hujan tadi sore yang menempel di dedaunan pohon rindang, jatuh dan membuat rambutku menjadi basah. Aku menikmati cipratan air di jalan ketika mengenai kakiku yang bertelanjang tanpa alas. Angin membantuku menikmati secangkir penuh kopi panas. Duduk di kursi besi yang sama dinginnya dengan udara malam ini

Aku, begitu menjemukan

Duduk terdiam
Hanya menikmati sesekali orang yang berlalu lalang
Mengamati apa yang membuat mereka tertawa, apa yang menjadikan mereka terlihat menikmati kehangatan diantara dinginnya malam. Bahagiakah mereka dengan tawanya itu?
Mengapa aku begitu perduli dengan mereka semua?


words of inspiration

Setelah beberapa menit jari di keyboard, mata menatap kosong di depan layar komputer,
Akhirnya saya menyerah dan berkata “i have no idea..”
Keinginan untuk bercerita begitu menggebu, jari-jari siap memuntahkan semuanya
Kata-kata berkerjaran, saling dorong, saling sikut, semuanya ingin jadi yang pertama hadir

Beberapa kali space judul saya isi..
Bandung dari Atas Sepeda
Museum di Bandung ketika pagi datang
…….

Dan sekali lagi, saya kebingungan
Mungkin saya perlu banyak belajar lagi
bagaimana bersalaman dengan ide
bermimpi dengan khayalan
berjalanan beriringan dengan imajinasi
menggenggam sebuah kepercayaan