Bandits called ATM

Setiap awal bulannya (seperti kebanyakan pekerja lainnya), saya dibayar oleh perusahaan untuk tetap bangun pagi setiap harinya, untuk tetap sehat dan pergi bekerja, untuk mengoceh, mengeluh dan mereka juga membayar saya untuk tetap bersemangat selama 8 jam penuh setiap harinya.
Setiap tanggal satu, saya selalu panasaran untuk bertandang ke ATM. Menebak-nebak berapa jumlah nominal yang akan saya terima kali ini. Walau jumlahnya sangat jarang berubah (read : bertambah) setiap bulannya, tapi ada gelitik tersendiri untuk menengok berapa nominal yang tertera di layar mesin ATM.
Dari satu sumber, saya ‘salurkan’ dana tersebut kedalam beberapa pos pengeluaran.
Yang pertama? Tagihan yang setiap bulan harus saya bayar, telepon dan internet. Dengan pintar, cekatan dan terampil, mesin ATM tersebut mengurangi harta kekayaan saya dalam sekejap (sigh..!) . Semakin miris lagi, ketika saya perlu mengambil beberapa lembar lagi untuk mengisi ulang dompet, untuk dijadikan harta karun selama seminggu kedepan. Tak tega dengan diri saya sendiri yang kehilangan beberapa rupiah dalam sekejap itu, saya berniat untuk tidak lagi menemui mesin ATM untuk seminggu atau lebih (mudah-mudahan).
Tapi apa daya, teknologi telah memperdaya saya. Pernah denger sistem Debit?
Nah itu pun sama rampoknya dengan mesin ATM.
Tinggal gesek, pencet nomor keramat, dan viola..barang ada ditangan tanpa disadari harta karun di kotak rahasia itu berkurang lagi. Honestly, saya penggemar berat dari sistem Debit ini. Ada unsur ‘hipnotis’ ketika berbelanja dengan debit. Uang cash didompet saya tidak berkurang, tapi barang ditangan. Ya..ya..sound so dumb, tapi lumayan juga untuk tetap merasa ‘dompet tetap tebal’.

Dan, hari ini godaan datang dari seorang kawan yang bekerja di sebuah EO di Jakarta

Ully : “Ind, Java Jazz Festival tuh tanggal 6-9 Maret besok.Nonton yoo..”
Duh, godaan setan yang terkutuk nih. Bisa gagal, hancur berantakan rencana nabung saya (yang artinya jangka waktu main ke ATM dikurangi).
Inda : “Hah, Ogah..Mahal”
Padahal dalam hati saya ketar-ketir menebak berapa harga tiketnya, siapa tau tabungan saya bulan ini bisa dibuat pos baru untuk nonton
Ully : “Ya lu beli aja yang tiket terusan sebelum pertengahan bulan depan, 3 hari berturut-turut, jatohnya lebih murah”
Tuh kan, setan emang selalu punya trik yang hebat untuk membujuk orang
Inda : “Emang berapa?”
..dan saya pun tergoda
Ully : “600 rebu buat tiga hari”
Masih masuk akal.
Inda : “Tumben murah. Eh, Ada Brian Mcknight ya?”
Menyemangati diri sendiri, bahwa 600 ribu adalah nominal yang pantas untuk menonton Brian McKnight, Matt Bianco,dll
Ully : “Bener banget. Ada Jason Mraz juga lho!”
Temen saya ini memang juara ngomporin
Inda : ” Wah asikkk..ayuu..ayuuu..”
Nah kan, luluh lantah lah niat saya untuk menabung ini
Ully : ” Jason Mraz nya hari Sabtu, dan tiketnya 450 rebu kalo ga salah”
Holly crap, maksudnya apa?
Ully : “Terpisah kali say, kalo lu mau nonton dia, lu kudu beli tiket lagi”

Berarti saya perlu mengeluarkan uang 1.050.000 untuk 3 hari itu?
Dan saya pun mengurungkan niat untuk ikut nonton
Saya tidak akan mempunyai tenaga untuk menarik uang sebanyak itu dari kotak ATM
Tidak tega rasanya bila harus menonton nominal yang merosot tajam jumlahnya dalam satu waktu penarikan
Dan saya pun takan tega membayangkan hanya bisa melihat dari kejauhan, cuma bisa lewat tanpa bisa menyentuh ATM, dan menarik beberapa rupiah dari dalamnya.

Apakah teknologi memang selalu seperti ini ya?
Berada ditengah pertempuran antara kebutuhan dan keinginan?

atm

Advertisements

About Inda Adimadja

Inda, frekuensi tertawa dan menggertunya sama banyak Inda, perempuan yang tergila-gila oleh langit,angin,matahai dan isinya Inda, menikmati hidupnya dengan jalan-jalan bersama keluarga Inda, memilih diam di rumah dan membaca di hari minggu yang terik Inda, menyukai persahabatan Inda, mencintai Tuhan dan Rassul nya Inda, menyayangi ayah,ibu,kakak,dan keponakannya Inda, menyukai semangka dingin Inda, sedang belajar mengenal Tuhan nya dengan caranya sendiri Inda, menyukai laki-laki yang pintar Inda, mudah tersinggung semudah senyum yang hadir dipipinya Inda, tidak keberatan dompetnya kosong untuk membeli buku Inda, senang menulis Inda, senang berbicara Inda, sering terkena sindrome moody Inda, hanya seorang Inda View all posts by Inda Adimadja

2 responses to “Bandits called ATM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: