Monthly Archives: May 2009

tetaplah menjadi bintang di langit

aku, kamu dan cerita kecil kita sembilan tahun yang lalu
hanya sedikit jalan yang pernah dilalui
tapi ternyata jejak yang ditinggalkan masih tersisa hingga kini
walau pada akhirnya hanya bisa dinikmati sesaat

kamu, aku dan penggalan perjalanan singkat sembilan tahun yang lalu
ada banyak perasaan yang yang ikut disitu
meski tak semua tak tersampaikan
aku tau kau tau
somehow…

kita,sembilan tahun yang lalu dan hari ini
..dan semuanya itu tak lebih dari perjalanan hidup
perjalanan yang membuat hati ini menjadi kaya,
atas kasih sayang, atas pemujaan yang dinamakan cinta

dan cerita ini akhirnya terbelah dua
kau merangkainya dengan banyak tokoh baru didalamnya, begitu juga denganku
cerita kita menuju kearah yang sama walau dengan alur yang berbeda

terimakasih untuk kenangannya
terimakasih untuk memori yang masih tersimpan rapih
terimakasih untuk doa nya

satu hal yang ingin aku bisikan padamu,
rahasia yang tak pernah kubagi dengan siapapun selama ini
denganmu, aku menemukan cinta pertama itu

Terimakasih untuk membaginya denganku
dan membiarkan aku merasakannya


..mungkin suatu hari nanti aku dapat memelukmu

mungkin suatu hari nanti aku bisa memelukmu
dan cinta ini bukan lagi sesuatu yang perlu diingkari

coba menghentikan laju derasnya rasa sayang dengan benturan kenyataan
bahwa perbedaan adalah awal muara dari semua rasa yang ada
ketika ia menuntut sebuah kebersamaan, perbedaanlah yang didapat
saat ia menginginkan untuk mengakhiri perjalanan,
aku menyeretnya untuk berpetualang

banyak keenganan dalam kata-katanya,
ada seribu keraguan dalam bahasanya
dan ketakutan dalam keputusannya

tapi cinta ini tak membelenggu
rasa ini telah berubah mejadi senyawa abadi yang sempurna tak tergantikan
rasa ini bermutasi menjadi rasa sayang yang tak mengenal lagi semua hal dalam dirinya
rasa yang satu,
dan akan selalu begitu

tapi ia akan tetap melaju,
menjalani harinya
dengan atau tanpanya

karena cinta ini akan tetap ada
dibungkus kenangan indah yang mungkin tak mudah untuk dipahami

berjanjilah untuk hidup bahagia dan aku akan memiliki separuh kebahagiaan itu
dan kau pemilik hati yang hitam,
aku akan tetap menyimpan hati dan rasa yang pernah kau coba berikan
tapi cobalah untuk jatuh cinta lagi
karena kau takkan tahu jikalau diluar sana ada yang mencintai, menyayangi dan memilikimu
seutuhnya

dan sempurna lah kalian berdua…


Berbagi senyum dari atas sepeda (part 1)

Saya perlu olah raga
dan kemarin pagi saya bersepeda
Sehari sebelumnya, saya mengirim pesan singkat kepada seorang kawan lama, “Isuk rek kamana? Sasapedahan yu?”
dan jawaban yang diterima sesuai dengan harapan “Siap, jam 6 ku urang disampeur”
5.45 saya siap sikat gigi, mencuci muka (tanpa perlu mandi-mau keringetan juga kan?)
Celana panjang berbahan kaus, kaus gombrong (dengan harapan akan mendapatkan banyak angin), rompi, backpack berisi topi (yang tidak terpakai), handphone (teuteup), handuk kecil dan kamera (teuteup juga dibawa padahal jarang terpakai) dan sepatu keds andalan yang kemarin baru saja dicuci.
6.00 saya dan sepeda pinjaman milik ayah stand by didepan rumah, menunggu sang kawan yang kebertulan tetangga tadi ditemani ibu
“Kamana Fajar teh yang?” tanya ibu saya sambil celingukan melihat ke jalan membantu kepenasaran saya mengapa sang kawan – Yang kedepannya akan disebut Fajar, karena memang itu namanya – belum datang juga. Saya coba hubungi, dan ternyata handphone nya tidak bisa dihubungi
“Saya pergi sendiri aja mah, lama kalo nunggu dia”
Antara rela dan tidak, ibu saya menahan saya untuk menunggu Fajar, tapi kaki saya sudah gatal untuk mulai menggowes.
” Ya atuh, keburu panas. Ati-ati”
Bismillah
Sambil mencari posisi yang paling enak untuk duduk,untuk menggoes, dan gigi sepeda yang dicoba pindah-pindahkan, saya memikirkan kemana arah tujuan sasapedahan kali ini, akhirnya saya memilih Balai KOta. Rindang pohon disana selalu sukses membuat saya ingin datang dan datang lagi. Oke, tujuan sudah ditetapkan,tinggal rute.
Rute hari ini, bebas. Yang penting banyak pohon, bebas polusi dan ga banyak orang.
Melewati jalanan besar-Sukarno Hatta, salah satunya- cukup membuat nyali saya ciut juga. Jalanan sudah cukup ramai, dan itu dia musuh besar saya datang. Bus KOta DAMRI cumi-cumi. Baiklah, mungkin bebas polusi masih sulit untuk didapat dijalan ini. “GAS POLL..”teriak saya dalam hati, hindari cumi-cumi raksasa itu sebisa mungkin, dan SUKSES (karena Bis cumi-cumi itu berhenti didepan pabrik Delami).
Goes lagi (dibaca sesuai tulisan aja, bukan lafal bahasa inggris ya)
Diperempatan lampu merah Bypass-Buahbatu saya berhenti (ingat peraturan dari selembaran SAFE ROAD BIKING TIPS-SRBT-dari komunitas Bike To Work yang pernah saya terima-nanti akan saya sebutkan dibawah) dan saya terlihat seperti mahluk aneh. Ada yang salah? Disebelah kanan dan kiri saya sepeda motor, dan mereka menatap saya dengan muka “ya elah hari gini pake sepeda”
Huuff..Tenang ‘nda, mereka udah lama ga liat orang pake sepeda kayanya. Oke, Semangat saya ON lagi.
Belok kanan, jalan Buah Batu. 
Fyi, jalan Buah Batu ternyata berlubang cukup parah, selama ini saya melewatinya dari kendaraan roda empat, jadi kurang memerhatikan dengan jelas. Karena hujan semalam, otomatis lubang tersebut beralih fungsi menjadi kolam. Sayang sekali.
Melewati bekas Supermarket Hero pagi-pagi gini pasti crowded, pikir saya. Dan benar. Jalanan didepannya cukup padat, dengan mobil yang parkir, angkot yang berhenti sembarangan, motor yang melawan arah, orang berlalu lalang dengan bebas merderka membuat saya akhirnya menyender di trotoar sebentar (Poin – 4 SRBT) sambil mengecek handphone saya. Ternyata ada Pesan dari Fajar yang isi nya ” DIMANA?” dan sebelum saya membalasnya, ada telpon masuk. Fajar.
F : “Urang kasiangan euy, maneh dimana ieu?”
I : “Buah Batu. Sare wae atuh”
F : “Saya nyusul lah. Kamu nunggu dimana?”
I : “Ditungguin sambil jalan ya? Bari neangan Circle K, mu beli minum. Okay bos?”
F : “Sip. Kabar-kabarin lagi. Urang indit ayeuna”
6.15, tapi saya masih mendapatkan embun waktu saya mengerluarkan udara dari mulut saya. Haaaa…SENANGNYA
Goes lagi.
Circle K dimana yang enak parkir nya ya?jalan terus aja lah, siapa tau didepan ada. Tidak terasa saya sudah diperempatan Buah Batu-PP 45. Tanggung lah, circle K Burangrang aja-pikir saya. Ini jalan favorite saya juga, Buah batu setelah perempatan PP 45.Pohon rindang, bau tanah dan daun setelah hujan, jalanan hitam pekat dan tidak terlalu ramai. Belok kanan, didepan lapangan Softball Lodaya, lalu belok kiri jalan Sancang. dan WOW..jalannya totally butut berat.Kolamnya memang kecil-kecil tapi banyak.Jaraknya dekat-dekat.Walaah..Tapi tanggung lah, Hajarrr…
Lurus terus menuju jalan Burangrang. Didepan ada circle K, tapi parkirnya ga enak ah. yang di Braga aja.
BPI, Perempatan 5 yang mengharuskan saya GAS POLL lagi (beneran!) untuk “numpang” nyebrang dengan seorang bapak yang menggunakan sepeda juga didepan saya,karena jujur saya memiliki kelemahan koordinasi dalam menyebrang. Jangankan dijalanan besar seperti ini, di jalan selebar cimbuleuit pun saya pernah sedikiiiit lagi tertabrak motor karena kelemahan tadi. Duh..!
Misi tercapai, sebagai ucapan terimakasih untuk numpang menyebrang saya tersenyum dan berbasa-basi “jalan-jalan pak?” dan si bapak pun tersenyum sambil mengangguk. Aman.
Ok, ini jalan Asia Afrika. Hotel Homman, Preanger dan Kilometer 0. Depan belok kanan ah, Braga. Di depan Bank Jabar ada pasukan Orange dan Biru berjajar masuk kedalam Bis. OOhh..Piknik ya? Medingan sasapedahan-senyum saya dalam hati.
Braga masih sepi-sepi dari orang orang yang sibuk foto foto, sepi dari lukisan yang biasanya dijajarkan di trotoar, sepi dari para Brotherhood itu..- tiba tiba ada sepeda menyalip dari sebelah kanan saya. Seorang bapak tua,masih sehat, sepedanya bagus,tersenyum. “Ayo..” katanya. Saya pun tersenyum lagi “Mari pak”
Wah, silaturahmi dijalan ini sih. Bagus-bagus..Ah, saya ikuti saja si bapak itu (btw, Circle K nya kelewat dehh..)
Dari Braga ternyata lurus terus-eumm..satu arah kan ya?gapapa ya?boleh emang?boleh aja lahh….(melanggar POin – 8 SRBT)
Sampai didepan BI, saya kebingungan. Ada taman kecil dibundaran situ. Ini lewat mana dong?nyebrang ya?waduh…belok kanan aja deh, ngelawan arus sih, tapi sepi kok. Ada rasa berdosa juga tapinya, bikin kagok kendaraan lainnya. Ya udah, U turn di depan Polwiltabes deh, masuk jalan Nias. Disamping Katedral, handphone saya bergetar lagi.
F : “Kamu dimana sekarang?”
I : “Polwitabes”
F : “Terus kemana?”
I : “Bebas. Nyari minum”
F : “Ya Udah, daerah situ aja ya. Biar saya jelas rute nya”
I : “Ok”
Masuk jalan Nias, banyak Polisi warna hijau stabilo duduk-duduk di warung, ngopi dan pasti ngerokok. Ko keliatannya gimanaaa gitu ya polisi nongkrong di warung? (Polisi juga manusia ‘nda)
Belok kiri,SMP 2. Sempet kepikiran buat masuk juga. Penasaran seperti apa sekarang keadaannya. Tapi ga ah, udah kelamaan lulusnya, ga akan ada yang kenal juga ntar disangka mau ngapain.Lurus terus, menuju samping taman lalu lintas (Ngomong-ngomong, patung yang lagi berdiri ditaman bunderan itu siapa sih?Bapa nya Ade Irma Suryani ya?Lagi ngeliatin anaknya maen ditaman lalu lintas?)
Lurus terus, jalan Sumatera (kalo ga salah) nahh..ini juga sedap nih, banyak pohonnya. Ngeliat pemandangan sebelah kanan rindangnya taman lalu lintas, jadi kangen juga sama masa kecil.Taman lalu lintas sering menjadi tujuan dikala weekend selain pergi ke toko buku (yup..saya seorang kutu buku akut dari kecil)
Lanjut, didepan Hotel Hyatt, saya urung belok kiri. Toh jalanan sepi, lurus aja lah. Ini dia BIP tampak belakang di pagi hari, sepi, tertidur.
Belok kiri, lalu perempatan belok kanan. DAGO. dan sepertinya hari ini saya memang ditakdirkan untuk sering bertemu dengan cumi raksasa DAMRI lagi dan yang ini lebih cumi dari yang cumi. Dia menggagalkan misi saya untuk menikmati udara Bandung tanpa polusi.Hayo lah, salip kanan menjauh secepat mungkin.
Dan ini lah Pohon-pohon terhebat, berjajar rapi. Akar gendut,daun lebat warna hijau.Hebat view saya menyebutnya.
Akhirnya circle K di Taman Telkom (Ranggamaelela) jadi pemberhentian saya yang pertama sambil menunggu Fajar.
Setelah parkir ditempat yang dirasa paling aman, saya rasa saya memerlukan kopi.
Black coffee dan banyak obrolan panjang lebar dengan bapak parkir disitu.

 (Ceritanya bersambung ya…)


BEC @ Sunday, May 8 2009

Seseorang yang bernama
Lucas
Arsitek UNPAR 99
Wisuda Bulan Juni 2005

(Yang sekarang sedang duduk dihadapaku)


BUKAN AKU!

lonely

Jangan tunjuk aku,
aku hanya ingin mereka mendengarkan apa yang aku katakan dalam suara sayu
Jangan pandangi aku,
aku hanya ingin mereka menyadari jika aku ada disini dalam hati yang sembilu

Jangan marah padaku,
jika aku hanya bisa duduk disini dengan ketidaktahuanku tentang apa yang terjadi
Jangan menuduh aku,
jika aku hanya diam dan bahwa waktu berlalu dengan derap cepat yang tak aku sadari

Aku dikecewakan oleh waktu,
diperbudak oleh keinginan yang tak menentu,
dicaci oleh ketidakmampuan untuk bertindak sesuatu,

Jajaran harapan hampa yang terus menghimpit
diperdaya,
dibarisakan menjadi sebuah kekosongan belaka
buaian, harapan, dan mimpi menjadi sesuatu yang absurd
disetarakan dengan rapihnya nisan yang diam membujur dingin
tak kuasa,

Ini tentang kesendirian
Menantang kesepian
dalam luasnya harapan


Stargazing with you

Perasaan ini lucu,
Entah apa namanya, tapi ini menggelikan
Sepintas merekapun tak tau apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua, tapi kalau saja mereka melihat lebih dalam di antara pandangan dan hati, mungkin mereka pun sepakat menamai ini adalah sebuah perasaan

Banyak yang bisa dia ceritakan kepadanya
Dan dia selalu membiarkannya menjadi seorang perempuan yang memang begitu adanya
Jikalau ada bahasa yang tepat memaknai ini, mungkin ini adalah cikal bakal dari sebuah akar hati yang akan tertancap tajam dan sulit untuk dilepaskan

Hanya saja perasaan ini lucu,
Tak bernama dan tak memiliki tuan,
Rasanya kadang menghunus tajam kedalam hati ketika sepakat diakhiri,
Tapi itu hanya beberapa hari,
Kemudian, keduanya saling berkata bahwa mereka merindu
Dan kembali menyatu

Ini bukan cerita yang bisa dipadankan
Meski rasanya sudah menyerap kedalam pori-pori, melekat erat seperti keringat dan perasaan yang coba disingkirkan tetapi terus memantul, melompat, dan tetap enggan keluar dari rongga hati

Dia ingin, mereka menikmati perasaan ini
Walaupun akhirnya perasaan yang bernama ini hanya akan menjadi cerita yang berlalu dengan beriringnya waktu
Perasaan yang ada dalam genggaman tapi tak bisa dimiliki
Perasaan yang lucu


i love your smile

Setengah berharap,
bahwa ini hanya mimpi buruk dari tidur panjang yang tak berkesudahan
Bahwa apa yang pernah dilewati dengannya hanya sebuah dejavu jauh dibawah kesadaran
..bahwa jatuh cinta padanya adalah semata hanya angan-angan

Cinta yang datang dari sebuah senyuman
Bertapa banyak keajaiban yang hadir dalam sebuah senyuman
Malaikat siap menaburkan serpihan-serpihan kecil dari cinta kala senyum terkulum karena  rasa masih menjadi tamu yang bisa pergi kapan saja

Wahai pencinta muda,
Sadarilah bahwa senyum itu bukan hanya milikmu, tapi ia menyebarkannya melalui angin, yang bertiup dan tak menentu dimana ia akan mengentikan perjalanannya
Berhentilah menunggu jikalau senyumnya akan hanya menghampirimu dan akan tetap disitu, ia selaksa daun kering yang tertiup angin dikala matahari senja

Jatuh cinta padamu,

Dan akhirnya aku membuang percuma waktuku
Dengan perasaan yang menentu

Tapi, bagaimanapun
aku lah yang mencintai senyumanmu itu