Berbagi senyum dari atas sepeda (part 1)

Saya perlu olah raga
dan kemarin pagi saya bersepeda
Sehari sebelumnya, saya mengirim pesan singkat kepada seorang kawan lama, “Isuk rek kamana? Sasapedahan yu?”
dan jawaban yang diterima sesuai dengan harapan “Siap, jam 6 ku urang disampeur”
5.45 saya siap sikat gigi, mencuci muka (tanpa perlu mandi-mau keringetan juga kan?)
Celana panjang berbahan kaus, kaus gombrong (dengan harapan akan mendapatkan banyak angin), rompi, backpack berisi topi (yang tidak terpakai), handphone (teuteup), handuk kecil dan kamera (teuteup juga dibawa padahal jarang terpakai) dan sepatu keds andalan yang kemarin baru saja dicuci.
6.00 saya dan sepeda pinjaman milik ayah stand by didepan rumah, menunggu sang kawan yang kebertulan tetangga tadi ditemani ibu
“Kamana Fajar teh yang?” tanya ibu saya sambil celingukan melihat ke jalan membantu kepenasaran saya mengapa sang kawan – Yang kedepannya akan disebut Fajar, karena memang itu namanya – belum datang juga. Saya coba hubungi, dan ternyata handphone nya tidak bisa dihubungi
“Saya pergi sendiri aja mah, lama kalo nunggu dia”
Antara rela dan tidak, ibu saya menahan saya untuk menunggu Fajar, tapi kaki saya sudah gatal untuk mulai menggowes.
” Ya atuh, keburu panas. Ati-ati”
Bismillah
Sambil mencari posisi yang paling enak untuk duduk,untuk menggoes, dan gigi sepeda yang dicoba pindah-pindahkan, saya memikirkan kemana arah tujuan sasapedahan kali ini, akhirnya saya memilih Balai KOta. Rindang pohon disana selalu sukses membuat saya ingin datang dan datang lagi. Oke, tujuan sudah ditetapkan,tinggal rute.
Rute hari ini, bebas. Yang penting banyak pohon, bebas polusi dan ga banyak orang.
Melewati jalanan besar-Sukarno Hatta, salah satunya- cukup membuat nyali saya ciut juga. Jalanan sudah cukup ramai, dan itu dia musuh besar saya datang. Bus KOta DAMRI cumi-cumi. Baiklah, mungkin bebas polusi masih sulit untuk didapat dijalan ini. “GAS POLL..”teriak saya dalam hati, hindari cumi-cumi raksasa itu sebisa mungkin, dan SUKSES (karena Bis cumi-cumi itu berhenti didepan pabrik Delami).
Goes lagi (dibaca sesuai tulisan aja, bukan lafal bahasa inggris ya)
Diperempatan lampu merah Bypass-Buahbatu saya berhenti (ingat peraturan dari selembaran SAFE ROAD BIKING TIPS-SRBT-dari komunitas Bike To Work yang pernah saya terima-nanti akan saya sebutkan dibawah) dan saya terlihat seperti mahluk aneh. Ada yang salah? Disebelah kanan dan kiri saya sepeda motor, dan mereka menatap saya dengan muka “ya elah hari gini pake sepeda”
Huuff..Tenang ‘nda, mereka udah lama ga liat orang pake sepeda kayanya. Oke, Semangat saya ON lagi.
Belok kanan, jalan Buah Batu. 
Fyi, jalan Buah Batu ternyata berlubang cukup parah, selama ini saya melewatinya dari kendaraan roda empat, jadi kurang memerhatikan dengan jelas. Karena hujan semalam, otomatis lubang tersebut beralih fungsi menjadi kolam. Sayang sekali.
Melewati bekas Supermarket Hero pagi-pagi gini pasti crowded, pikir saya. Dan benar. Jalanan didepannya cukup padat, dengan mobil yang parkir, angkot yang berhenti sembarangan, motor yang melawan arah, orang berlalu lalang dengan bebas merderka membuat saya akhirnya menyender di trotoar sebentar (Poin – 4 SRBT) sambil mengecek handphone saya. Ternyata ada Pesan dari Fajar yang isi nya ” DIMANA?” dan sebelum saya membalasnya, ada telpon masuk. Fajar.
F : “Urang kasiangan euy, maneh dimana ieu?”
I : “Buah Batu. Sare wae atuh”
F : “Saya nyusul lah. Kamu nunggu dimana?”
I : “Ditungguin sambil jalan ya? Bari neangan Circle K, mu beli minum. Okay bos?”
F : “Sip. Kabar-kabarin lagi. Urang indit ayeuna”
6.15, tapi saya masih mendapatkan embun waktu saya mengerluarkan udara dari mulut saya. Haaaa…SENANGNYA
Goes lagi.
Circle K dimana yang enak parkir nya ya?jalan terus aja lah, siapa tau didepan ada. Tidak terasa saya sudah diperempatan Buah Batu-PP 45. Tanggung lah, circle K Burangrang aja-pikir saya. Ini jalan favorite saya juga, Buah batu setelah perempatan PP 45.Pohon rindang, bau tanah dan daun setelah hujan, jalanan hitam pekat dan tidak terlalu ramai. Belok kanan, didepan lapangan Softball Lodaya, lalu belok kiri jalan Sancang. dan WOW..jalannya totally butut berat.Kolamnya memang kecil-kecil tapi banyak.Jaraknya dekat-dekat.Walaah..Tapi tanggung lah, Hajarrr…
Lurus terus menuju jalan Burangrang. Didepan ada circle K, tapi parkirnya ga enak ah. yang di Braga aja.
BPI, Perempatan 5 yang mengharuskan saya GAS POLL lagi (beneran!) untuk “numpang” nyebrang dengan seorang bapak yang menggunakan sepeda juga didepan saya,karena jujur saya memiliki kelemahan koordinasi dalam menyebrang. Jangankan dijalanan besar seperti ini, di jalan selebar cimbuleuit pun saya pernah sedikiiiit lagi tertabrak motor karena kelemahan tadi. Duh..!
Misi tercapai, sebagai ucapan terimakasih untuk numpang menyebrang saya tersenyum dan berbasa-basi “jalan-jalan pak?” dan si bapak pun tersenyum sambil mengangguk. Aman.
Ok, ini jalan Asia Afrika. Hotel Homman, Preanger dan Kilometer 0. Depan belok kanan ah, Braga. Di depan Bank Jabar ada pasukan Orange dan Biru berjajar masuk kedalam Bis. OOhh..Piknik ya? Medingan sasapedahan-senyum saya dalam hati.
Braga masih sepi-sepi dari orang orang yang sibuk foto foto, sepi dari lukisan yang biasanya dijajarkan di trotoar, sepi dari para Brotherhood itu..- tiba tiba ada sepeda menyalip dari sebelah kanan saya. Seorang bapak tua,masih sehat, sepedanya bagus,tersenyum. “Ayo..” katanya. Saya pun tersenyum lagi “Mari pak”
Wah, silaturahmi dijalan ini sih. Bagus-bagus..Ah, saya ikuti saja si bapak itu (btw, Circle K nya kelewat dehh..)
Dari Braga ternyata lurus terus-eumm..satu arah kan ya?gapapa ya?boleh emang?boleh aja lahh….(melanggar POin – 8 SRBT)
Sampai didepan BI, saya kebingungan. Ada taman kecil dibundaran situ. Ini lewat mana dong?nyebrang ya?waduh…belok kanan aja deh, ngelawan arus sih, tapi sepi kok. Ada rasa berdosa juga tapinya, bikin kagok kendaraan lainnya. Ya udah, U turn di depan Polwiltabes deh, masuk jalan Nias. Disamping Katedral, handphone saya bergetar lagi.
F : “Kamu dimana sekarang?”
I : “Polwitabes”
F : “Terus kemana?”
I : “Bebas. Nyari minum”
F : “Ya Udah, daerah situ aja ya. Biar saya jelas rute nya”
I : “Ok”
Masuk jalan Nias, banyak Polisi warna hijau stabilo duduk-duduk di warung, ngopi dan pasti ngerokok. Ko keliatannya gimanaaa gitu ya polisi nongkrong di warung? (Polisi juga manusia ‘nda)
Belok kiri,SMP 2. Sempet kepikiran buat masuk juga. Penasaran seperti apa sekarang keadaannya. Tapi ga ah, udah kelamaan lulusnya, ga akan ada yang kenal juga ntar disangka mau ngapain.Lurus terus, menuju samping taman lalu lintas (Ngomong-ngomong, patung yang lagi berdiri ditaman bunderan itu siapa sih?Bapa nya Ade Irma Suryani ya?Lagi ngeliatin anaknya maen ditaman lalu lintas?)
Lurus terus, jalan Sumatera (kalo ga salah) nahh..ini juga sedap nih, banyak pohonnya. Ngeliat pemandangan sebelah kanan rindangnya taman lalu lintas, jadi kangen juga sama masa kecil.Taman lalu lintas sering menjadi tujuan dikala weekend selain pergi ke toko buku (yup..saya seorang kutu buku akut dari kecil)
Lanjut, didepan Hotel Hyatt, saya urung belok kiri. Toh jalanan sepi, lurus aja lah. Ini dia BIP tampak belakang di pagi hari, sepi, tertidur.
Belok kiri, lalu perempatan belok kanan. DAGO. dan sepertinya hari ini saya memang ditakdirkan untuk sering bertemu dengan cumi raksasa DAMRI lagi dan yang ini lebih cumi dari yang cumi. Dia menggagalkan misi saya untuk menikmati udara Bandung tanpa polusi.Hayo lah, salip kanan menjauh secepat mungkin.
Dan ini lah Pohon-pohon terhebat, berjajar rapi. Akar gendut,daun lebat warna hijau.Hebat view saya menyebutnya.
Akhirnya circle K di Taman Telkom (Ranggamaelela) jadi pemberhentian saya yang pertama sambil menunggu Fajar.
Setelah parkir ditempat yang dirasa paling aman, saya rasa saya memerlukan kopi.
Black coffee dan banyak obrolan panjang lebar dengan bapak parkir disitu.

 (Ceritanya bersambung ya…)

Advertisements

About Inda Adimadja

Inda, frekuensi tertawa dan menggertunya sama banyak Inda, perempuan yang tergila-gila oleh langit,angin,matahai dan isinya Inda, menikmati hidupnya dengan jalan-jalan bersama keluarga Inda, memilih diam di rumah dan membaca di hari minggu yang terik Inda, menyukai persahabatan Inda, mencintai Tuhan dan Rassul nya Inda, menyayangi ayah,ibu,kakak,dan keponakannya Inda, menyukai semangka dingin Inda, sedang belajar mengenal Tuhan nya dengan caranya sendiri Inda, menyukai laki-laki yang pintar Inda, mudah tersinggung semudah senyum yang hadir dipipinya Inda, tidak keberatan dompetnya kosong untuk membeli buku Inda, senang menulis Inda, senang berbicara Inda, sering terkena sindrome moody Inda, hanya seorang Inda View all posts by Inda Adimadja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: