married vs facebook (female case)

Di usia menjelang 30 tahun, menikah menjadi -a must do thing- untuk beberapa orang, perempuan khususnya.
Semuanya menjadi serba terburu-buru, pilihan calon pendamping hidup mendadak menyusut jumlahnya, pertanyaan dari kerabat yang tak kunjung henti dan tekanan baru yang muncul dari facebook.

Situs jejaring sosial, yang dirasakan banyak manfaatnya-salah satunya adalah untuk silaturahmi (aka. reuni)- memicu kecemburuan sosial diantara si belum menikah dengan yang telah menikah dan dengan yang telah memiliki bayi kecil dalam pernikahannya.
Kasus pertama dimulai dari nama.
Untuk mereka yang telah menikah, mereka menambahkan nama suami mereka di belakang namanya
dan jujur saja, itu menjadikan nama mereka menjadi lebih terdengar cantik, pas, seakan-akan nama tambahan itu memang diciptakan khusus untuknya. Berbahagialah untuk mereka yang menikah dengan seseorang yang memiliki nama keluarga yang memang perfectly match with your name

Kasus kedua diikuti dengan foto profile.
Entah itu foto prewedding atau ketika foto wedding, dan yang lebih spektakuler lagi rasanya adalah ketika ada foto bayi diantaranya, entah satu atau dua bayi lucu yang difoto diantara kedua ayah dan ibunya.

Iseng, saya melakukan perbincangan mengenai hal ini dengan seorang kawan yang usianya memang tak jauh dengan saya dengan posisi status yang sama pula.
“Miris kadang”
Nama kami masih murni tanpa ada embel-embel nama suami, masih 100 persen nama pemberian orang tua, kalaupun ada nama keluarga didalamnya, pastinya itu adalah nama keluarga ayah atau ibu.
Foto profile kami masih diisi dengan kegiatan hura-hura (bersenang-senang) dengan beberapa kawan. entah itu berpetualang atau hanya dipojokan tempat minum kopi.

Tapi bagaimanapun keadaanya, saya tetap beryukur.
Saya sedang menunggu waktu untuk mengganti nama saya dengan embel-embel nama suami
saya sedang menabung untuk membeli kamera untuk memotret beribu kegiatan anak saya dan diposting dimana-mana.

Dan untuk para perempuan yang telah menikmati previlage itu, jaga dan syukurilah itu semua
Dan untuk para perempuan yang masih mengisi kolom searching for a soulmate di hatinya, bersabarlah.tunggu lah waktu..karena semua akan indah pada waktunya 🙂

Advertisements

About Inda Adimadja

Inda, frekuensi tertawa dan menggertunya sama banyak Inda, perempuan yang tergila-gila oleh langit,angin,matahai dan isinya Inda, menikmati hidupnya dengan jalan-jalan bersama keluarga Inda, memilih diam di rumah dan membaca di hari minggu yang terik Inda, menyukai persahabatan Inda, mencintai Tuhan dan Rassul nya Inda, menyayangi ayah,ibu,kakak,dan keponakannya Inda, menyukai semangka dingin Inda, sedang belajar mengenal Tuhan nya dengan caranya sendiri Inda, menyukai laki-laki yang pintar Inda, mudah tersinggung semudah senyum yang hadir dipipinya Inda, tidak keberatan dompetnya kosong untuk membeli buku Inda, senang menulis Inda, senang berbicara Inda, sering terkena sindrome moody Inda, hanya seorang Inda View all posts by Inda Adimadja

3 responses to “married vs facebook (female case)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: