Monthly Archives: February 2011

menunggu hujan

diam,
duduk tak bergerak
memandangi jendela yang membingkai matahari
tatapan yang terlihat kosong
namun sebenarnya menunggu

menghela nafas,
masih tetap terdiam
kali ini ia tak menginginkan angin
walau lebut terasa menerpa
tak akan bisa menikmati seperti biasanya

walau tampak tak jelas,
sepertinya langit berubah warna
dalam hati berucap semoga jingga tak datang kali ini
biar saja warna gelap yang hadir
semoga saja warnanya menjadi abu

dan angin tak lagi berhembus semilir,
hati mulai bangkit dari duduknya,menunggu kabar baik
dan nyata, angin bertiup beradu dengan ruang kosong
awan kelabu datang bersama butiran air,

dan ia mulai berhitung
satu
..dua
dan datanglah yang ia tunggu
hujan
…tik..tik..tik..

ia berlari keluar rumah tanpa alas kaki
menantang awan untuk menurunkan semua air yang ia miliki
agar ia memiliki alasan yang tak mereka ketahui
ia perlu menangis
tapi hatinya tak mengizinkan mereka melihat air mata

dan kini hujan datang ditemani petir
ia makin menggila
ia perlu berteriak tanpa harus didengar oleh siapapun
ia ingin mengerluarkan amarah tanpa harus mereka tau

ia pun terduduk,
bersimpuh di tanah
jangan salahkan air hujan yang mengalir bercampur dengan airmata
jangan pertanyakan mengapa petir kali ini menggelegar lebih keras
karena bercampur dengan teriakan amarah

tak menyelesaikan semua permasalahan
hanya sepertinya rongga hati melebar
siap menampung lebih banyak, yang entah apa

setelah senyum hadir saat menatap langit
ia berjalan perlahan membuka pintu
dengan tubuh yang kuyup dan suara yang parau
life, i’m back

 

Advertisements

kepada : hidup

apa kabar dunia?
lama tak menyapamu
masihkah langit berwarna biru,
rumput yang berwarna hijau,
kuning milik jeruk limau,
..ah bertapa aku merindu

sesekali aku bersua dengan matahari,
walau hanya sesaat, sebentar saja menyapa
tak sempat bertanya kabar, hanya senyum yang tersungging
tak lebar memang,
tapi mungkin ia tau bahwa aku merindukannya
iya, aku rindu…

lama tak bertegur dengan hujan,
lama tak mendengar renyah suaranya
menunggu petir menggelegar lantang
mengintip apakah pelangi akan datang kali ini

kursi itu telah lama tak kududuki
bantal bulu angsa telah kembali ke bentuk semula
lama tak kupeluk
wangi yang biasa kutinggal disitu kini telah bercampur debu

apa kabar hidup?
rinduku telah sampai diujung tanduk
bagaimana caranya untuk menyentuhmu kembali?
karena hatiku separuhnya masih ada disitu
di dunia yang hanya ada aku
dan semua hal yang aku inginkan

apakabar hidup?
rinduku terus mengalir bersatu dengan nafasku
katakan padaku jalan untuk kembali denganmu
karena hanya dengan menyentuhmu,merasakanmu
aku merasa bahwa aku adalah aku

mendekatlah padaku,
akan kubisikan padamu
aku merindu,bawa aku bersamamu

(inda,ketika merindu)


drupadi

Tanpa aku bicara, kau tau begitu saja
aku menunggu hingga kau bertanya
aku menanti, berharap kau memahami dengan sendirinya
karena aku merasa, kau tau apa yang aku rasa

Kita berbiacara dalam diam
bercerita tanpa kata
bersandar pada kesadaran bahwa kau adalah sang separuh nyawa
yang akan merasa apa yang aku rasa

Aku menunggumu,
menunggu waktu yang tepat untuk berada dalam pelukanmu
kau diam menantiku,
meyakini akan tiba masanya kita kan menyatu

Hatiku mungkin terpecah,
membelah dan terbongkah
tapi cinta yang kupunya tetap utuh
menyatu selayaknya yang tak tersentuh

Aku drupadi,
untuk waktu,untuk hati dan pekerjaanku
jangan tanyakan mengapa begitu
karena mereka tak tau
hanya kita yang tau


sogan dan malam

Lembayung senja yang kehitaman
semburat jingga yang menggelap perlahan
diantara kuning langit yang kecoklatan
aura dingin yang berubah menjadi kehangatan

Langkah mulai menapak perlahan
menyeret kaki dengan enggan
berharap dengan menutup mata,setiba itu ia akan pulang
tanpa perlu mengangkat kaki untuk berjalan

Raut wajah yang sudah tak ingin disapa
tubuh lunglai yang tak kuasa untuk berkata
mata sayu yang tak lagi mampu berbicara
kilap wajah yang penuh dengan kelelahan

Kemanakah arah pulang,

dimana ada kursi berbau sama dengan peluh bercampur pewangi tubuh
bantal bulu angsa yang sama lembutnya dengan kue bolu pandan hangat
cangkir putih berkerak coklat, yang diisi air putih hangat berbau teh

masih jauhkah ia harus berjalan

karena langit telah dipaksa untuk menumpahkan hujan
pelangi pun enggan datang untuk berbagi keindahan
karena saat lembayung telah selesai berpentas,
malam datang untuk unjuk kebolehan

Hanya ia yang bisa,
menutup mata sambil berjalan
karena berharap sambil berkedip saja takkan sempat diiyakan Tuhan
berkata ia dalam hati,
“Tolong pindahkan pulang dalam satu langkahku kedepan..”

satu mata ia buka,kemudian dua (ia berharap ada mata ketiga dan keempat)
karena satu atau dua mata yang ia buka,
arah pulang masih jauh membentang
Sogan menghilang
berganti gelap malam
jingga menurunkan layarnya, dan hitampun terbentang
ia terus berjalan dalam diam